SAAT
AKU MENGENAL PROFESI BIDAN
27 april 2017. Kamis 6
:41
Pada awalnya, aku tidak
mempunyai keinginan untuk menjadi seorang bidan, mengapa demikian? Iya, karena
dulu aku bercita-cita sebagai pramugari dan polwan. Sejak kelas sebelas (XI)
Sekolah Menengah dulu, aku sudah bermimpi dan berangan-angan bahwa aku akan jadi
seorang pramugari suatu saat nanti. Itu dikarenakan ada salah seorang temanku
yang sedang fokus mendaftar disekolah penerbangan terbesar di Kota Kendari saat
itu. Karena dari itu, aku jua ingin seperti temanku mendaftar di Yayasan
penerbangan tersebut, agar kelak mudah jika ingin menjadi pramugari karena telah
memiliki sertifikat penerbangan. Tetapi, setelah aku lihat dan analisa, serta
banyak beredar kabar entah hoax atau bukan jika penerbangan itu hanyalah kampus
PHP (pemberi harapan palsu) bahwa hanya menebar janji-janji akan mencarikan
pekerjaan setelah lulus, tapi hanya janji. Aku pun putus asa dan sedih saat
itu, tidak tau lagi bagaimana harus menjelaskan kepada orang tua karena aku
sudah terlanjur bilang sama orang tua saat itu, kemudian ayah menyarankan agar
mencoba saja dulu masuk polwan, tetapi setelah aku tanya kepada teman yang
telah menjadi polisi bahwa tes nya sangat rumit apalagi tes fisik dan
kesehatanya sangat ketat sekali, haha.. pada saat itu, bukanya mencoba malah
mundur duluan sebelum berperang lagian tinggiku juga hanya 158 cm, tetapi berat
ideal tapi kan syaratnya harus 160, haha tidak perlu dipaksakan lah ya. Lantas,
aku bingung akan memilih apa lagi nantinya. Padahal awalnya eyang sudah
menyarankan agar dikebidanan saja, karena dia punya banyak temen dosen dan
kepala puskesmasnya pun dia kenal, hmm wajar lah ya karna dulu beliau juga
pernah jadi relawan dan kepala kader disalah satu posyandu didesa. Ada baiknya juga
saran itu, tetapi aku berfikir apakah aku siap mental dan fisik jika nanti
kerjanya bergelut dengan darah dan suntik serta kadang harus siap dipanggil
tengah malam ketika ngantuk masih belum terbayar? Tetapi, setelah lama-lama
juga aku menyadari dan teman juga ada yang menyarankan dikebidanan lebih bagus
dari pada keperawatan. Ya, mulai dari situ aku mencoba menanyakan kepada mama
bagaimana jika aku dikebidanan saja, respon mama sih antara senang dan
khawatir, dia sih takutnya karena lapangan pekerjaan nya yg makin lama makin
membludaknya bidan baru tiap tahunya dan senangnya ketika nanti jika aku
bekerja dan membuka klinik sendiri dirumah. Tapi, lama-lama beliau juga setuju,
Karena banyak yang ingin membantuku masuk di Yayasan Akademi Kebidanan Konawe.
Nah, satu lagi permasalahan dari bapak nih, beliau kurang setuju jika aku masuk
dikebidanan, beliau bilang aku itu orangnya plin plan katanya, dulu ingin
disini nanti disitu sekarang disana. Hahah iya juga sih jadi lucu juga ya.
Tapi, apakah kita harus merelakan cita-cita demi keinginan orang tua? Tidak.
Itu bukanlah akhir dari segalanya, terkadang hambatan dan tantangan muncul,
ketika kita sedang giat-giatnya berusaha. Kita harus berani bersungguh-sungguh,
apapun resikonya kelak itu adalah sebuah resiko. Karena kita yang berani
berbuat harus berani bertanggung jawab, jika kita mengalami hambatan-hambatan
itu sudah kewajiban kita untuk melewati hambatan itu, mintalah petunjuk kepada
Tuhan, mintalah restu kepada orang tua, dan mintalah bantuan kepada
teman-teman. Niscaya, semua akan indah pada waktunya J.
