Kamis, 22 Maret 2018

SAAT AKU MENGENAL PROFESI BIDAN




SAAT AKU MENGENAL PROFESI BIDAN
27 april 2017. Kamis 6 :41

Pada awalnya, aku tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang bidan, mengapa demikian? Iya, karena dulu aku bercita-cita sebagai pramugari dan polwan. Sejak kelas sebelas (XI) Sekolah Menengah dulu, aku sudah bermimpi dan berangan-angan bahwa aku akan jadi seorang pramugari suatu saat nanti. Itu dikarenakan ada salah seorang temanku yang sedang fokus mendaftar disekolah penerbangan terbesar di Kota Kendari saat itu. Karena dari itu, aku jua ingin seperti temanku mendaftar di Yayasan penerbangan tersebut, agar kelak mudah jika ingin menjadi pramugari karena telah memiliki sertifikat penerbangan. Tetapi, setelah aku lihat dan analisa, serta banyak beredar kabar entah hoax atau bukan jika penerbangan itu hanyalah kampus PHP (pemberi harapan palsu) bahwa hanya menebar janji-janji akan mencarikan pekerjaan setelah lulus, tapi hanya janji. Aku pun putus asa dan sedih saat itu, tidak tau lagi bagaimana harus menjelaskan kepada orang tua karena aku sudah terlanjur bilang sama orang tua saat itu, kemudian ayah menyarankan agar mencoba saja dulu masuk polwan, tetapi setelah aku tanya kepada teman yang telah menjadi polisi bahwa tes nya sangat rumit apalagi tes fisik dan kesehatanya sangat ketat sekali, haha.. pada saat itu, bukanya mencoba malah mundur duluan sebelum berperang lagian tinggiku juga hanya 158 cm, tetapi berat ideal tapi kan syaratnya harus 160, haha tidak perlu dipaksakan lah ya. Lantas, aku bingung akan memilih apa lagi nantinya. Padahal awalnya eyang sudah menyarankan agar dikebidanan saja, karena dia punya banyak temen dosen dan kepala puskesmasnya pun dia kenal, hmm wajar lah ya karna dulu beliau juga pernah jadi relawan dan kepala kader  disalah satu posyandu didesa. Ada baiknya juga saran itu, tetapi aku berfikir apakah aku siap mental dan fisik jika nanti kerjanya bergelut dengan darah dan suntik serta kadang harus siap dipanggil tengah malam ketika ngantuk masih belum terbayar? Tetapi, setelah lama-lama juga aku menyadari dan teman juga ada yang menyarankan dikebidanan lebih bagus dari pada keperawatan. Ya, mulai dari situ aku mencoba menanyakan kepada mama bagaimana jika aku dikebidanan saja, respon mama sih antara senang dan khawatir, dia sih takutnya karena lapangan pekerjaan nya yg makin lama makin membludaknya bidan baru tiap tahunya dan senangnya ketika nanti jika aku bekerja dan membuka klinik sendiri dirumah. Tapi, lama-lama beliau juga setuju, Karena banyak yang ingin membantuku masuk di Yayasan Akademi Kebidanan Konawe. Nah, satu lagi permasalahan dari bapak nih, beliau kurang setuju jika aku masuk dikebidanan, beliau bilang aku itu orangnya plin plan katanya, dulu ingin disini nanti disitu sekarang disana. Hahah iya juga sih jadi lucu juga ya. Tapi, apakah kita harus merelakan cita-cita demi keinginan orang tua? Tidak. Itu bukanlah akhir dari segalanya, terkadang hambatan dan tantangan muncul, ketika kita sedang giat-giatnya berusaha. Kita harus berani bersungguh-sungguh, apapun resikonya kelak itu adalah sebuah resiko. Karena kita yang berani berbuat harus berani bertanggung jawab, jika kita mengalami hambatan-hambatan itu sudah kewajiban kita untuk melewati hambatan itu, mintalah petunjuk kepada Tuhan, mintalah restu kepada orang tua, dan mintalah bantuan kepada teman-teman. Niscaya, semua akan indah pada waktunya J.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar